PEACE PREVAILS

May peace prevails upon all beings on the earth and beyond. You may scroll down to browse the contents of this blog.

Wednesday, 7 January 2015

BENGAWAN SOLO


"Bengawan Solo" yg sesekali dilagukan oleh saya dan puteri bongsu saya Ainina adalah antara lagu yg menyejukkan jiwa saya dan isteri, Rozana. Lagu klasik bila dinyanyikan oleh anak remaja generasi siber, membuka getaran segar dalam diri yg kekadang malu mengaku tua.

Bengawan Solo baru-baru ini timbul kembali dalam radar hidup saya, bukan dalam bentuk lagu, tapi dalam bentuk empat pemuda seniman seni rupa dari Solo Indonesia - Irul, Sonny, Indra dan Wahyu. Pengalamannya , seperti lagu tadi, menyejukkan hati. 

Mereka bertamu di Pulau Pinang untuk berpameran, membina pertautan dan melebarkan pengalaman. Inisiatifnya berputik dari Arina Kiswantoh, bekas penuntut seni halus USM yg pernah mengikuti pengajian di Jogja dalam program pertukaran pelajar. 

Saya bertemu mereka di rumah pensyarah Arina, Dr. Tetriana dan suaminya Hasanul, seorang pelukis. Salam pengenalan saya dengan mereka bermula dgn leteran saya kepada Arina tentang pilihan lokasi atau tempat berpameran. Tempat pameran bukannya neutral, getarannya ditentukan oleh pengemudi dan para penguninya. Leteran bercampur khutbah-jergah saya itu berputar sekitar pentingnya memuliakan hasil titik-peluh (karya) dengan meletakkannya (berpameran) di tempat yang sesuai dengan 'angin' karya. Keadilan adalah meletakkan sesuatu di tempatnya yang sesuai, termasuklah karya seni. Saya merasakan angin karya empat pemuda Solo ini tidak sesuai dipamer di tempat yang dipilih. Gitulah lebih kurang kesimpulan leteran saya yang mungkin membuat mereka terkejut beruk dalam sopan bertamu. 

Esoknya saya bawa mereka mengikuti kuliah dan alami jiwa halus keliling Pulau dengan kereta Avanza cabuk saya yang masih setia. Alami alam lebih afdal dari bidaah kata dalam kekangan bilik kuliah yang lebih banyak mengajar berhujah dari berhijrah. Ia juga denai atau laluan yang lebih dekat fitrah jika dibanding dengan ketepuan ruang galeri yang adakalanya amat hanyir dengan bau haloba dan duri persaingan takbor lupa kubor. 

Jika mahu membina ego palsu dan memunafikkan diri, atau mahu beri makan pada saka prasan seniman, itu saya tak minat nak layan. Tapi saya boleh cadangkan beberapa pakar yang berkelayakan untuk dilanggan. Yang boleh saya ikhtiarkan adalah memberi pil biru pencair ilusi bentuk dan rupa untuk mereka cuba menyingkap hijab minda. 

Kuliah alami jiwa halus keliling Pulau bermula dgn rezeki udang sebalik mee serentak elegi Teluk Kumbar ke ekstasi Bukit Genting; silau hartanah di Balik Pulau, merewang di Kelewang, bahang wang Teluk Bahang dan Feringgi, dan diakhiri menjengok saka warisan Kolot-nial di George Town.





Sambil keliling, saya mencerap getar kesenimanan mereka, yang ritma dan nadanya lebih eksistensialis. Tak perlu saya ulas karya-karya mereka. Ada ramai broker kata, kurator-pengator-kolektor-narator dan para dosen bertauliah yang lebih rajin melakukannya.

Beberapa hari selepas kuliah alami, saya jemput mereka bertamu dalam program Kebun Jiwa Halus di Gertak Sanggul, Balik Pulau. Mereka berkhemah semalam di dusun Pak Sarip sambil berpeluang berkebun jiwa halus dengan 25 orang adik remaja yang tercicir. Di dusun ini, mereka tidak dikekang oleh tekanan melakonkan watak seniman. Mereka boleh menjadi diri sendiri, dan saya dapat menimba tempias alami mereka sebagai insan muda di Solo dan di Indonesia. 





Hari ini, malam tadi, mereka bertandang ke rumah teres sewa saya yang kecil. Mereka menghadiahkan beberapa tanda ingatan yg kuat getar saka Jawa sebagai penghargaan. Saya tak minta, tapi terima kasih kerana memberi. Pertemuan, persahabatan dan pertautan adalah rezeki yang amat berharga dan bernilai. Kehadiran anda saja telah meluaskan rezeki saya.

Terima kasih, semoga ketemu lagi.




1 comment:

  1. ...jujur...terharu saya membacanya... :'(
    ...Terimakasih Banyak Pak Hasnul... :)
    ...yang telah...
    # menjadi Bapak sekaligus Guru dalam salah satu episode pengembaraan kami "menembus" Garis Cakrawala...
    # memberi inspirasi dan tauladan bagi kami sebagai anak muda dalam mengarungi kerasnya kehidupan dan atmosfer berkesenian yang universal...
    # nasihat dari Bapak akan selalu membuat kami untuk selalu berendah hati...berjiwa besar, dan selalu berbuat baik dalam pengabdian untuk kebaikan...
    # suluh Doa dari Bapak adalah Semangat bagi perjalanan dan langkah kami berikutnya...

    ...Semoga Allah senantiasa melindungi kita selalu...Dan melimpahkan kesehatan serta kesejahteraan selalu bagi Pak Hasnul beserta Ibu Roz dan sekeluarga...

    ...Sampai ketemu kembali Prof...! :D
    ...Salam dari Irul & Anak-anak "Garis Cakrawala" Solo ... hehe ... (y)

    ReplyDelete