Thursday, 19 April 2012

MELESTARI TAUTAN KUANTUM

Sesungguhnya kaum beriman itu semuanya bersaudara, maka damaikanlah antara dua saudaramu (yang berselisih). Dan bertakwalah kepada Allah, semoga kamu semua dirahmati-Nya.

Wahai sekalian orang beriman! Janganlah suatu kaum menghina kaum yang lain, kalau-kalau mereka (yang dihina itu) lebih baik daripada mereka (yang menghina). Begitu pula janganlah para wanita (menghina) para wanita (yang lain), kalau-kalau mereka (yang dihina) itu lebih baik daripada mereka (yang menghina itu). Dan janganlah kamu saling mencela diri (sesama) mu, dan janganlah pula saling memanggil sesamamu dengan panggilan-panggilan (yang tidak baik). Seburuk-buruk nama ialah (nama yang mengandungi) kejahatan setelah adanya iman. Barangsiapa tidak bertaubat, mereka itulah orang-orang zalim (jahat).

Wahai sekalian orang beriman! Jauhilah olehmu banyak prasangka, kerana sesungguhnya sebahagian prasangka itu dosa (jahat). Jangan pula kamu saling mematai-matai (saling mencari kesalahan sesamamu), dan janganlah saling mengumpat sebahagian dari kamu terhadap sebahagian yang lain. Apakah ada seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya dalam keadaan kamu mati, sehingga kamu menjadi benci kepadanya? Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah itu Maha Pemberi taubat dan Maha Pengasih.

Wahai sekalian umat manusia! sesungguhnya Kami ciptakan kamu sekalian dari lelaki dan wanita, dan Kami jadikan kamu sekalian berbagai bangsa dan suku, agar kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah kamu yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah itu Maha Tahu dan Maha Teliti.

(Al-Hujerat, 10 - 14)

Saturday, 14 April 2012

PEMULA BUKA TENAGA MINDA

Ahli fizik sudah mengesahkan, tenaga minda bertaut dengan gelombang kuantum seluruh alam. Aristotle pernah pesan "Tenaga minda adalah pati hidup".

Jom kita tinjau bagaimana menala tenaga minda agar senada dengan fitrah. Jika dapat kembali pada fitrah, terzahir mandat manusia sebagai wakil PENYAKSI yang menSEJAHTERAkan seluruh alam.

Perubahan paradigma bermula dari keadaan gelombang minda (atau lensa) yang akan menentukan apakah pengalaman mimpi benda (kehidupan) yang ditayangkan untuk PENYAKSIAN kita. Ia menentukan cara kita menjadi SAKSI.  Ia PAKSI. Ia TALI yang membuka medan kuantum.

Sama-sama kita mohon perlindungan dan petunjuk, terutama saya yang masih dibelengu puSAKA rock dan selalu hanyut ni. 

Saya pernah dipesan Ayahanda dan Bonda, mulakan dengan Syahadah, dengan niat (pintu atau pembuka tenaga), berserta pengosongan, disusul getaran suara (lafaz) yang menggegarkan seluruh urat-nadi dan segala atom serta sel-sel berbillion yang kita prasan dan sebut sebagai aku. 

Ditanam (dibenih/disubur) getaran lafaz tadi menerusi pernafasan lebih kurang 7 harakat setiap naik (sedut) dan turun (hembus). Pernah juga saya dipesan, bila sedut nafas, kita tanam; bila hembus nafas, kita suburkan, kita hantar. Persis menghantar dan menerima signal atau isyarat (tenaga) ke seluruh alam. 

Dalam skala atom, dan dengan getaran Syahadah, ilusi AKU, HILANG - KOSONG (ingat ruang kosong, kata para ahli fizik kuantum). 

Patutlah dulu saya selalu dipesan untuk 'kosong'kan 'diri' oleh ramai guru. Tapi masa itu brutal, tak ambil kisah pun. Tengah sedap tidur bermimpi la katakan, tak rock la nak bangun pulak! Nak tanggal ilusi 'AKU PELUKIS YANG LASYAT' bukan senang.

Sambung....

Selepas pengosongan, seperti yang selalu dipesan (kalau tak pun, dileteri Bonda), mula dengan BISMILLAH. 

Selalunya dulu bila buat, getarannya dimulut je, kadang tu pun sebab nak tunjuk alim bila ada orang lain.  

Itu ilusi 'dulu'. Yang penting adalah mengisi SEKARANG, dan setiap SEKARANG. Kita isi gelombang minda dengan memetakan cara jadi SAKSI agar kembali kepada YANG MAHA PENGASIH DAN MAHA PENGAMPUN. Kita jadi SAKSI ikut JALAN YANG LURUS. 

Yang ni ada dalam bahagian IBU KITAB sumber yang dirujuk. Masukkan getaran IBU KITAB pula, barulah medan kuantum 'ada isi'. Lebih banyak kali dibuat, lebih kuat getarannya. Fungsi gelombang kuantum jadi lebih besar dan bertaut dengan gungsi gelombang kuantum SELURUH ALAM yang SENADA dengannya.

Nak buka fungsi gelombang kuantum yang lain pun boleh, tapi lagi best kalau ikut apa yang PENGHULU kita dah pesan dan buat. Sebutlah nama dia macam orang bercinta agar getaran fungsi gelombang kuantum kita SENADA dengan PENGHULU kita. 

Patutlah saya tak serik-serik dipesan Bonda,

"Bila nak mula kerja tu, selain Bismillah, salawatlah bebanyak Nol, kalau tak nanti kerja tu diserta dengan setan. Buat kerja ikhlas, ikhlas tu kalis setan."

Dah 'ada isi', silakanlah. Bukalah, cartakanlah, petakanlah medan minda  dengan memandunya agar lebih fokus. Nak apa? pilihlah apa jua yang ikut fitrah. 

Niat dulu, lepas tu alami (dengan minda) rasanya, baunya, bunyinya, rupanya, persis sedang dialami secara zahir.   

Proses tanam benih gelombang kuantumnya sama. Getar dan tuturkan (lafaz), jaga pernafasan. 

Contohnya, jika dah dibuka fungsi gelombang kuantum "CINTA, KASIH SAYANG, KEDAMAIAN, KETENANGAN, KEAMANAN, KEBAHAGIAN, KEGEMBIRAAN ABADI DUNIA & AKHIRAT", berkali-kali setiap hari, apa yang terjadi?

Yang terjadi, adalah penzahiran kita sebagai SAKSI kepada tayangan mimpi benda (segala aspek kehidupan, termasuk ilusi aku) yang berkongsi (SENADA) dengan gelombang kuantum yang telah dibuka dan dihantar tadi - HIDUP YANG DITANDAI OLEH CINTA, KASIH SAYANG, KEDAMAIAN, KETENANGAN, KEAMANAN, KEBAHAGIAN, KEGEMBIRAAN ABADI DUNIA & AKHIRAT" . 

Jom cuba.

Friday, 13 April 2012

PARADIGMATIC SHIFT : A CASE OF MUZIUM & GALERI TUANKU FAUZIAH

This is a repeated and re-edited versions of my previous blog entries. It was supposed to be shared during the recent Creativity and the Spiritual Path event, but not meant to be. Nevertheless, Allah is the BEst of Planner. All that I wanted to share here have been manifested through the inspiring presentations by other creative individuals during the event. Creative Intelligence manifests in myriads of ways, not necessarily through this shadowy existence or small ripple called Hasnul J Saidon.


So here we go....

Ok, we at MGTF USM can provide our stakeholders (people of Malaysia) with all the Key Performance Indicators (KPI), fancy statistics, numbers, grafts and charts that can document all our tangible achievements.
They are termed as ‘strategic information’, and now perhaps can be accessed in this particular center in USM with a name too long, I can’t remember.
On the other hand, what we (my friends and I at MGTF USM) cherish more are those intangible values that we have managed to vibrate and share with all of you (our visitors and potential visitors). These values are beyond form, beyond KPIs. They are meant to be experienced (ALAMI).
When I was given the mandate to head MGTF USM, one of the oldest university museums in Malaysia, I was unhappy and reluctant. I hated museum. Understandably, it was probably due to my training as a contemporary visual artist. Central to such training are ME and that illusion called THE ARTIST.
Practicing as a visual artist in an environment eager to become a part of a global capitalist matrix, feeding this EGO called HASNUL J SAIDON, THE ARTIST is imperative in sustaining a presence. 
I was persistently an angry, pessimist, sarcastic and easily agitated person, ready to blame everything except myself. Everything was centered around sustaining my 'doing'as an artist, plus the accompanying baggage of whatever taken as a threat to that ‘doing’. To be ‘demoted’ as a caretaker of a museum housed in an old colonial building was a big blow and threat to this notion of being a contemporary visual artist, in short, my BIG EGO.
But ALLAH is the BEST PLANNER. Through the experience of running a university museum and gallery for the past seven years with my friends, I was given a learning lesson, if not humbled. My ego was shattered into dust, even though its lingering presence is still around to pounce me whenever I’m not aware of what this thing called ‘my mind’ is doing.
The journey began with many questions. Central to these questions are :
1. How to ‘decolonize’ a museum, which is traditionally taken as one of the by-products of colonial legacy. How to encounter such extension of western modernism and scientific paradigm (read classical physic) that has ‘colonized’ the very foundation of much of the Eastern spiritual (in my case, read Malay-Islamic) paradigms found in many forms of Malay-Islamic or Eastern traditions. How to subvert the effort of turning these spiritual heritage into ‘artifacts’ or ‘dead objects’ without pertinent relevancy to current contexts? 
2. How to make a university museum relevant and pertinent to current contemporary imperatives and contexts, to current and future generation?
I have been blessed to be given 7 years to answer these questions, while healing myself in the process.
The answer :
WE NEED A PARADIGMATIC SHIFT, A ‘HIJRA’ OF SOME SORT, A ‘TRANSFORMATIVE STANCE’

 
What is this so-called paradigmatic shift then?
I have another 4 minutes to share with you the answers

Due to time constraint, I will read through a list of such shift, with the hope that each shift will spark a quantum wave in our own mental state.

From
CLASSICAL PHYSIC
To
QUANTUM PHYSIC
From
FORM
To
INFORMATION
From
BODY
To 
MIND & SOUL
 
From
CONTENT
To
CONTEXT
From
LINEAR
To
NON-LINEAR
From
MASS (MEDIA)
To
MULTI (MEDIA)
From
OFFLINE
To
ONLINE
From
SEQUENTIAL
To
SIMULTANEITY/CONCURRENT
From
THEN
To
NOW
From
PASSIVE
To
INTERACTIVE/PARTICIPATIVE
From
SINGULAR DIMENSION
To
TRANS-DIMENSIONAL
From
SINGULAR DISCIPLINE
To
TRANS-DISCIPLINE
From
DOMINANCE
To
SYNERGY
From
INDEPENDENT
To
INTER-DEPENDENT
From
CONTROL
To
EMPOWERMENT
From
PERMANENCY
To
CHANGE
From
FIXED
To
FLEXIBILITY
From
ONE TO MANY
To
MANY TO MANY
From
EXCLUSIVE
To
INCLUSIVE
From
PRODUCER-CENTERED
To
USER-CENTERED
From
HOMOGEINITY
To
TRANS-CULTURAL

From
COMPETITION
To
COLLABORATION
From
SEPARATION
To
CONVERGENCE
From
ZAHIR
To
BATIN 
From
MANAGING
To
INSPIRING
From
REACTING TO CHANGE
To
BE THE CHANGE
From
PUNISHING BAD BEHAVIOURS
To
ENCOURAGING GOOD BEHAVIORS

From
CENTRALIZED
To
HIGHLY NETWORKED
From
HIERARCHY
To
WEB OF RELATIONSHIP
From
PHYSICAL SKILL
To
MENTAL SKILL
From
FINDING FAULTS
To
SOLVING PROBLEMS
From
PRE-DETERMINED
To
CHOICE
From
THING
To
TIME
From
DESCRIBING
To
EXPERIENCING
From
FIGHTING DARKNESS
To
EMITTING LIGHT

Investing in the intangible (we like to refer to them as light) doesn’t require large budget. What is needed is sincere love in sharing our shared heritage and humanity. 
Let us embrace a paradigmatic shift, a return (transforming back or ‘hijra’) to our true nature (fitrah) together, to fulfill the greatest mandate that has been bestowed upon us –
TO MAKE PEACE

Tuesday, 3 April 2012

BANGUNLAH SAYANG.

(Tautan ke Bahagian 10)
http://hasnulsaidon.blogspot.com/2012/04/blog-post.html?m=0

Dalam skala fizik kuantum, segalanya di seluruh alam ini saling berkait. Dalam skala kuantum, anda, saya dan segalanya bertaut, bergumpalan, saling-berkait, saling-bergantungan dalam hubungan non-linear serba-berkemungkinan, yang tidak dibatas oleh ruang dan masa. Ini antara rahsia alam yang telah diterokai oleh ramai insan dan guru-guru kita dulu yang berpaksikan dimensi kerohanian. 


Kita pilihlah getar tenaga minda apa yang hendak kita hantar dan terima, yang akan menentukan realiti mimpi benda kita. 


Mari kita berhenti sat, dan muhasabah sama-sama. Apakah yang telah kita pilih selama ini dalam hidup kita? Dan ke manakah pilihan ini telah membawa kita? Secara individu dan secara kolektif. Sebagai khalifah yang tugasnya menSEJAHTERAkan alam, adakah kita semua (seluruh dunia) telah berjaya mencapai sasaran atau KPI ini?


Cuba renung kata-kata seperti jodoh, kebetulan, tarikan, jauh tapi dekat di hati dan banyak lagi yang senada dengannya dalam perbualan harian kita. Kita sudah mewarisi bahasa kuantum ini, menerusi pelbagai pintu. Berdoalah agar kita dapat dari pintu yang betul, yang membawa kita dan seluruh umat manusia ke jalan yang lurus. 


Buatlah refleksi diri, cuba renung-semula sejarah hidup kita (muhasabah). Segalanya yang disebut sebagai sejarah hidup kita itu, adalah sejarah hasil dari PILIHAN kita terhadap CARA kita menjadi SAKSI kepada perlakuan minda. Ringkasnya, sejarah PENYAKSIAN kita. Watak, peristiwa, kejadian, benda dan segalanya yang pernah kita tempuhi dan lalui adalah BAYANGAN pada perlakuan minda kita, atau BAYANGAN pada PILIHAN kita terhadap CARA menjadi SAKSI.


Moralnya, hentikanlah menyalahkan orang lain, keadaan dan segala dalam alam semesta ini kecuali diri sendiri. Lihatlah dan renungkanlah dalam diri sendiri betul-betul. Situlah MUSUH PALING HEBAT. Situ juga SAHABAT SEJATI, INSAN PALING HEBAT. Situlah juga CAHAYA. 


Elaklah dari menjadi sebahagian dari gelombang tenaga yang sibuk MENYALAHKAN ORANG LAIN kerana ia boleh menjadi HIJAB yang MEMENJARA kita dalam KEGELAPAN. 


PILIHlah untuk menjadi sebahagian dari gelombang tenaga CINTA TULUS, KASIH SAYANG SEJATI, KEAMANAN, KEDAMAIAN, KETENANGAN, KECERIAAN, KEGEMBIRAAN DAN KEBAHAGIAN ABADI. Sebahagian dari CAHAYA.  


Jika cara yang kita PILIH itu sentiasa berpaksi syahadah, bergetar dengan zikir PEMURAH dan PENGASIH, sejarah hidup kita dipenuhi oleh realiti mimpi benda yang menzahirkan bayangan syahadah tadi, penuh dengan rezeki berkat dan kasih tulus yang melimpah (infinit). Begitu jugalah sebaliknya. 


Renungkanlah apa yang telah terjadi dalam hidup kita. Renungkanlah siapa watak yang kita temui, peristiwa yang ditempuhi, benda-benda yang dilalui. Semua amat berguna dan mengandungi terlalu banyak tanda dan rahsia. Tiada satu (walau sehalus mana) pun sia-sia.

Implikasi dari interpretasi kuantum ini adalah besar. Saya serahkan pada semua pembaca untuk memikirkannya, sambil mendoakan kita semua dapat Hidayah dan Petunjuk, terutama saya sendiri, yang banyak kali terhijab dalam mimpi benda. Cerita peribadi ni tak payahlah buat drama hindustan. 


Kenalilah hijab yang menjadi tabir minda. Apa hijab ni? Dalam skala fizik klasik, memanglah nampak jasad kita dan segala benda dalam alam semesta ini terpisah-pisah dan terasing-asing. Ini yang menyebabkan kita perasan kita sebagai penyaksi, boleh berdiri sendiri dan terpisah dari yang disaksi. Ini adalah punca kita tidak sedar bahawa kita mengalami 'mimpi benda', menyangka bahawa apa yang disaksi itu berada di luar minda. Ini menyebabkan kita sibuk SALAHKAN orang lain dan segalanya kecuali diri sendiri. Inilah hijabnya. Ego adalah hijabnya. Yang kita kata 'aku' itu hijabnya. Dalam kes saya, 'aku pelukis' itulah hijabnya, yang perlu diberi makan egonya setiap masa, apatah lagi dalam kehidupan berpaksikan hukum kapitalis.  


Ini juga adalah asas sains berkiblatkan hukum klasik yang membaca dan mentafsir alam secara mekanikal dengan bahagian-bahagian yang terpisah-pisah. Inilah juga asas kepada paradigma positivis dalam mencerap ilmu pengetahuan, berdasarkan bukti-bukti empirikal seperti yang dipakai oleh ramai manusia yang bijak-pandai. Ia juga asas kepada apa yang kita panggil sebagai pengetahuan moden, mahupun modenisasi berpaksikan fahaman materialis. Asas ini secara umumnya mempengaruhi pengalaman hidup atau 'mimpi benda' kita hari ini. Inilah yang diwariskan kepada kita menerusi antaranya, pengalaman kolonial dulu. 


Bukanlah ianya tak elok, tapi terbatas. Kena rajin selak hijabnya. Jika lalai, boleh membuat kita terhijab terus dalam mimpi benda, tidak mampu bangun. Kita menjadi sang pemimpi dalam dunia bayangan yang tidak sedar kita sedang bermimpi. Jika kita terus tidur, kita terpasung, terpenjara dan menderita berterusan dalam mimpi benda yang gelap.


Jika kita dapat bangun (dibangunkan), kita menjadi cahaya yang boleh menentukan mimpi apa yang dikehendaki : Mimpi (persis projektor holografi) yang dipancar oleh cahaya KESEJAHTERAAN, berpaksi syahadah. 


BANGUNLAH SAYANG.

Baca juga
http://hasnulsaidon.blogspot.com/2011/09/happy-inter-dependence-and-birth.html 

MINDA DAN GETARAN JIWA

(Tautan ke Bahagian 6)
http://hasnulsaidon.blogspot.com/2012/04/sifat-gelombang-kuantum-dan-yang.html?m=0

Dengan setiap fikiran, kita membina keadaan kuantum yang baru. Fikiran kita adalah sebehagian dari riak-riak atau kocak gelombang yang kecil dari segala jenis gelombang di seluruh alam (ingat permukaan kolam). Setiap fikiran mencetuskan corak interference (realiti benda) yang baru. Dengan setiap fikiran, qwiff yang baru dibina. Ia berinteraksi dengan SELURUH ALAM, tanpa batasan ruang dan masa, persis menghantar signal, untuk bertaut dengan signal-signal lain yang senada. Proses yang amat pantas (kelajuan cahaya) ini berlaku berterusan. Setiap fikiran yang baru berinteraksi dengan seluruh alam, khususnya qwiff lain yang senada (in tune) dengan fikiran (qwiff) yang dihantar. Kesemuanya akan bergumpalan hinggalah ia membina satu realiti baru seterusnya (menerusi penyaksian berterusan). Kita panggil kesedaran minda. 

Tenaga minda adalah pati kehidupan (Aristotle)

Alam semesta berinteraksi dengan tenaga minda kita sepanjang masa.  Nada getaran tenaga yang kita hantar pada alam semesta akan bertaut dengan nada getaran tenaga yang sama, untuk membina realiti berdasarkan nada getaran yang dihantar. Jika dihantar nada getaran 'cinta yang tulus', realiti benda kita akan terbina menzahirkan 'cinta yang tulus'.

Apa yang boleh manfaatkan menerusi segala interpretasi fizik kuantum ini?

Marilah kita menjadi penyaksi pada perlakuan minda yang kita namakan sebagai 'minda aku'. Jagalah nada getaran medan perlakuan minda kerana ia benih kepada realiti benda kita, termasuk kata-kata dan perbuatan. Marilah kita memelihara apa yang dizikirkan (getar) oleh minda, kerana ia akan membina realiti hidup atau 'mimpi benda' kita.

Meminjam dari P.Ramlee, peliharalah GETARAN JIWA. 

Getarkanlah 'CINTA TULUS, KEAMANAN, KEDAMAIAN, KETENANGAN, KEGEMBIRAAN DAN KEBAHAGIAAN'  


Baca juga
http://hasnulsaidon.blogspot.com/2011/09/happy-inter-dependence-and-birth.html 

SIFAT GELOMBANG KUANTUM DAN YANG BERNAMA PILIHAN.

(Tautan ke Bahagian 7)
http://hasnulsaidon.blogspot.com/2012/04/anugerah-hebat-bernama-otak-dan-minda.html?m=0

Cuba lihat corak-corak arabesque yang sering didapati pada bangunan-bangunan berteraskan seni bina Islam. Ada yang melihat susunan segitiga, ada yang melihat susunan gabungan segitiga dan segiempat, ada yang melihat heksagon, ada yang melihat bulatan, ada yang melihat gabungan bulatan dengan segitiga. Ringkasnya, kemungkinan cara melihatnya adalah infinit. Apabila penyaksi memilih untuk melihat gabungan bulatan dan segitiga, segala kemungkinan yang lain runtuh, lupus atau hilang, meninggalkan hanya binaan gabungan bulatan dan segitiga sebagai realiti persepsi yang dialami.

Lihat lagi contoh rekacorak arabesque (boleh google dalam internet). Kesemuanya boleh dilihat SERENTAK, dalam KEPELBAGAIAN kemungkinan yang TIDAK-PASTI, SALING BERTINDAN, BERTAUT, SALING-BERKAIT, SALING-BERGANTUNGAN ANTARA CORAK KECIL (MIKRO) DENGAN CORAK BESAR (MAKRO), TIDAK BERURUTAN (NON LINEAR), PELBAGAI PUSAT SERENTAK, BERKITARAN (CYCLICAL) hinggalah ada PENYAKSI memilih apa yang hendak diSAKSI. Apa yang disaksi hanyalah sebahagian dari keseluruhan yang infinit.

Rekacorak arabesque adalah contoh deskripsi gelombang kuantum yang paling afdal (pada saya la).  Ia amat demokratik dan memberi hak PENYAKSI untuk MEMILIH apa yang dilihat. 

Prinsip skimatik kuantum ini boleh dikesan pada fungsi otak, dan boleh diaplikasi dalam segala aspek penyaksian dan kehidupan (pendidikan, politik, ekonomi, sains-teknologi, seni-budaya).

Malangnya, ia tidak diamalkan, atau diamalkan sekerat-sekerat, kerana dipasung oleh SAKA pandangan materialis berkiblat hukum sains fizik klasik. Sakanya membiak menerusi imperialisma, sekularisma, dan kini kapitalisma bebas. Semuanya membiak qwiff toksid sebagai makanan ego, menjadi hijab yang dianggap sebagai PILIHAN terbaik (jika tak pun otomatis) kemanusiaan dan ketamadunan.

Proses alami itu wujud bersama dengan wujudnya alam semesta menerusi penyaksian, termasuklah apa yang kita boleh katakan sebagai 'aku sedang membaca blog'. Malah, yang kita katakan sebagai otak sedang memproses data itu pun sendiri, hadir dari kekosongan, menerusi penyaksian minda.

Jika begitu, bolehkah dikatakan bahawa kita sedang menjadi saksi pada proses atau perlakuan minda sedar yang kita namakan sebagai 'aku yang sedang membaca blog'?

Segala kemungkinan dan kepelbagaian fungsi gelombang kuantum (qwiff) runtuh untuk membina satu pengalaman bernama 'aku sedang membaca blog'. Mungkin ada yang membina pengalaman 'aku sedang cuba faham apa yang ditulis oleh brader ni', atau 'apa benda yang dia tulis ni?', atau 'alhamdulillah' atau 'insyaAllah aku dapat Petunjuk dari Allah'.

Siapakah yang memilih pengalaman minda? Pengalaman minda menentukan realiti benda.  Siapa yang menjadi saksi pada perlakuan minda? Siapa yang menyaksi 'aku'?

Baca juga

http://hasnulsaidon.blogspot.com/2011/09/happy-inter-dependence-and-birth.html 

Monday, 2 April 2012

JADI SAKSI

(Tautan k Bahagian 8)
http://hasnulsaidon.blogspot.com/2012/04/kepelbagaian-keadaan-hinggalah-disaksi.html?m=0

Apabila sisi sains (fizik kuantum terutamanya) cuba menjawab semua soalan yang ditanya pada penghujung blog entry yang lepas, yang terhasil adalah begitu banyak interpretasi dalam bahasa fizik yang sukar difahami oleh orang biasa. 


Ada diantara interpretasi tersebut seolah datang dari ahli sufi, atau ahli falsafah, mahupun insan-insan yang lebih terjurus pada ilmu kerohanian dan dimensi batin, lebih dari ahli fizik. 


Gaya ungkapan dan interpretasi yang dulunya ditolak mentah-mentah dengan sombong dan angkuh sebagai mengarut, tahyul, delusi, mundur dan merepek oleh pengamal sains moden, kini dituturkan oleh ahli-ahli fizik yang tersohor! 


Ironik.  


Sains moden menolak metafizik. Kini, fizik kuantum seolah ingin kembali menjawab persoalan metafizik. 


Fenomena fizikal memanglah boleh dihurai ikut hukum fizik klasik berasaskan model mekanikal terhadap alam. Bagaimana pula dengan fenomena metafizikal? 


Apabila sains berada di sempadan alam fizikal (benda/zahir) dengan mental (fikiran/batin), ia mula mengusulkan jawapan-jawapan yang pelik (jika ikut hukum fizik klasik).    


Apakah jawapan atau interpretasi yang kita terima?


Tenaga? Gelombang? Partikel? Ruang kosong? Ilusi? Delusi? Ketidakpastian? Hidup dan mati serentak? Ketidak-pastian? Gumpalan Fungsi Gelombang Kuantum (qwiff)? Penyaksian dan Saksi?  Pilihan? 


Dan interpretasi berikut:
Alam semesta termasuk pemerhati atau penyaksi itu sendiri tidak terpisah dari apa yang disaksi. Malah, alam semesta itu sendiri wujud kerana ada manusia yang menjadi SAKSI. Kita adalah SAKSI kepada proses minda. 


Mungkin ilmu sains dan teknologi berkiblatkan hukum benda tidak lagi boleh memberi jawapan yang lebih halus tentang alam dan manusia. Sisi metafizik dan kerohanian yang selama ini diterokai menerusi bidang-bidang kemanusiaan seperti bidang seni, budaya, warisan, kini diperlukan bagi melengkapkan deskripsi dan kefahaman kita terhadap manusia dan alam semesta. Dari segi keilmuan, kita perlu kembali kepada metodologi yang holistik, yang tidak memisahkan sains/teknologi dengan seni/budaya. Paksi ontologikal, bagi seorang Muslim seperti saya, sudah pastilah ilmu Tauhid itu sendiri. 


Otak manusia itu sendiri perlu dipandu dan dimanfaatkan secara holistik, agar kesedaran minda (dan mimpi benda) yang dialami oleh kita lebih berimbangan. Saya dipesan oleh beberapa adiguru, katakunci bagi penalaan otak dan proses minda adalah syahadah.


Otak manusia itu sendiri, kini diinterpretasi sebagai berfungsi menerusi paradigma fizik kuantum, bukan lagi berasaskan model fizik klasik. 


Stuart Hameroff dan Sir Roger Penrose contohnya, mengatakan bahawa kesedaran minda mestilah wujud menerusi fizik pada skala kuantum, bukan mekanikal dan model klasik (beroperasi seperti mesin dengan bahagian-bahagian yang terasing).   


Model kepintaran buatan berdasarkan rangkaian neural buatan (artificial neural network) tidak lagi memadai untuk menerangkan fungsi dan kehebatan suatu anugerah bernama otak. Memanglah teknologi komputer itu merupakan lanjutan dari fungsi otak. Namun ia bukan tandingan dengan fungsi otak yang jauh lebih hebat. 


Terdapat dimensi fungsi otak yang tidak boleh disukat (non-computational), yang beroperasi pada skala kuantum. Terdapat aspek subjektif pada sistem saraf yang belum disingkap hijabnya dari sisi sains. Cabaran yang dihadapi oleh para pemimpin ilmu kini adalah untuk menghubungkan jurang antara sisi fizikal dan mental (mahupun objektif dan subjektif) menerusi model otak kuantum.


Kepada mereka yang berminat mengenal diri, rajin-rajinlah juga mentelaah dan mengenal sifat otak.


Sir Roger Penrose umpamanya meletakkan 'kemampuan memilih dengan sendiri' (free will) sebagai dimensi non-computable otak yang tidak boleh dihurai menerusi model fizik klasik. Menerusi kemampuan memilih dengan sendiri' ini, digabungkan dengan apa yang disebut sebagai Godel's theorem (tak payahlah tanya apa jadah ni pula), Penrose mengatakan bahawa otak kita tidak lagi beroperasi secara berurutan (linear) dan lojikal berdasarkan operasi matematikal yang ringkas. Otak seharusnya berfungsi menerusi pemprosesan pelbagai data dengan serentak tanpa memerlukan pengiraan yang khusus dan terperinci. Sesuatu pengalaman itu dengan sepintas (serta-merta) 'terbina' dalam otak, tanpa memerlukan proses pengiraan yang dibatasi faktor masa dan jarak ruang (seperti komputer).


Penrose membina model otak berdasarkan prinsip fizik kuantum. Beliau mengusulkan apa yang dikatakan sebagai SR atau Subjective Reduction apabila ingin memberi interpretasi terhadap persoalan membuat pilihan tadi. Apabila sesuatu objek kuantum itu disaksi oleh gelombang yang lain (pemerhati), ia akan memilih satu keadaan untuk dialami. Pemilihan ini dipanggil SR. 


Bagi Penrose, selain dari penyaksian atau pemerhatian, sesuatu objek itu akan 'terbina' sekiranya jumlah tenaga qwiff nya sampai ke tahap sempadan paling tinggi. Beliau merujuk pada Teori relativiti Einstein, GR. 


Namun, GR hanya boleh digunakan pada skala makroskopik (dari planet ke galaksi, ke bintang hinggalah ke benda-benda kecil). Ia tidak boleh diguna-pakai dalam skala kuantum (atom, molekul dan partikel sub-atomik seperti elektron). Terdapat sempadan kabur antara teori GR dengan fizik kuantum, persis sempadan kabur antara alam fizikal dan alam mental (zahir dan batin). 


Alam fizikal adalah refleksi/pantulan/hasil interpretasi alam batin.


Pada sempadan ini, teori graviti Einstein tidak boleh digunakan. Penrose menamakannya graviti kuantum. Penrose menggunakan formula graviti kuantum untuk menyatakan apabila sesuatu objek menjadi lebih besar, lebih sedikit masa untuk ia berada dalam kepelbagaian keadaan serentak (ingat kucing Schrodinger). Bagi Penrose, proses dimana kepelbagaian gumpalan fungsi gelombang kuantum (qwiff) dilupus atau diruntuh untuk membina hanya satu qwiff (realiti) dipanggil 'just objective reduction' (atau OR).


Bagi Penrose, otak kita mestilah mengatur agar fungsi gelombang kuantum yang bergumpalan dan pelbagai kemungkinan itu (qwiff) runtuh untuk membina hanya satu realiti. Proses ini dipanggil Penrose sebagai 'orchestrated objective reduction' atau Orch OR.


Soalnya, bagaimana dan dimanakah berlakunya Orch OR ini dalam otak?  


Bagi Hameroff, terdapat sesuatu yang lebih halus dari sekadar rangkaian sistem neural otak. Beliau merasakan bahawa ada sesuatu yang lebih halus menjalankan fungsi-fungsi kompleks untuk membolehkan 'kesedaran minda' itu berlaku berterusan. 


Hameroff mengatakan bahawa terdapat sejenis protein bernama tubulin yang berada dalam banyak microtubules. Terdapat banyak microtubules dalam sel neuron. Di dalam tubulin inilah kata Hameroff berlakunya Orch OR. 


Untuk setiap riak fikir yang sedar kekal dalam jangka-masa antara 1/20 hingga setengah saat, lebih dari 10 bilion tubulin mesti digetar dalam keadaan kuantum antara satu sama lain. Keadaan kuantum yang pelbagai ini (bergumpalan) akan melalui proses Orch OR untuk mengizinkan pengalaman alami yang sedar berlaku. 


Setiap kali Orch OR berlaku, setiap kali kesedaran minda berlaku, menghasilkan ilusi 'aliran minda sedar' yang berterusan. Tubulin diatur begitu sekali dalam otak untuk membolehkan kesedaran minda yang berterusan wujud. Menerusi Orch OR, otak mencipta pengalaman sedar dan realiti, membolehkan kita mengalami alam semesta dan diri sendiri, dengan pilihan dan cara penyaksian kita.


Mari kita bersyahadah.




Baca juga
http://hasnulsaidon.blogspot.com/2011/09/happy-inter-dependence-and-birth.html




  

Sunday, 1 April 2012

KEPELBAGAIAN KEADAAN SERBA KEMUNGKINAN SEBELUM DI'SAKSI'

(Tautan ke Bahagian 9)
http://hasnulsaidon.blogspot.com/2012/04/bangunlah-sayang.html?m=0

Neil Bohr mengatakan bahawa setiap benda boleh wujud dalam pelbagai keadaan pada masa yang serentak hinggalah ia disaksi atau disukat. Interpretasi Bohr dipanggil Prinsip Melengkapi (Principle of Complimentarity).


Setiap kali sesuatu benda disaksi, benda terebut akan hadir hanya dalam satu keadaan (dari pelbagai keadaan sebelum ia disaksikan). Segala kemungkinan-kemungkinan fungsi gelombang kuantum (qwiff) akan lupus untuk membentuk hanya satu realiti benda (apabila disaksikan).


Interpretasi Bohr ini menyebabkan Schrodinger mengusulkan eksperimen teoretikalnya yang kini dikenali sebagai Schrodinger's Cat paradox

Secara ringkasnya, eksperimen Schrodinger mempersoalkan bahawa sekiranya seekor kucing diletakkan dalam sebuah kotak (dengan 50-50 kemungkinan ia diracuni oleh gas beracun), dalam keadaan kotak tertutup, fungsi gelombang kuantum (quantum wave function) kucing tersebut tentulah dalam pelbagai keadaan serentak (pelbagai kemungkinan). Dalam konteks ini, kucing tersebut mungkin:
1. Hidup
2. Mati
3. Hidup dan mati serentak


Jika interpretasi Bohr dipakai, kucing tersebut berada dalam keadaan hidup dan mati serentak, hinggalah ada seorang yang membuka kotak tersebut untuk meyaksikannya. Pada ketika penyaksian, segala kepelbagaian keadaan gelombang kuantum kucing tersebut runtuh atau lupus untuk membentuk hanya satu keadaan atau realiti benda yang disaksi.


Phuhhhh....Pelik? Tak masuk akal? Kali ni tak garu dagu lagi, kali ni garu kepala.


Ini bukan episod "Jangan Pandang Belakang" atau sebarang cerita misteri nusantara. Ini interpretasi saintis, yang dikenali dengan kaedah memahami, memakna dan mentafsir alam dari sisi logik akal, rasionaliti, pendekatan positivis berdasarkan pembuktian empirikal.


Mungkin ia pelik kerana saintis dididik oleh pemikiran berpaksikan hukum fizik klasik (benda dan mekanikal).


Einstein cukup benci dengan paradoks ini. Agaknya inilah punca rambut dia mencacak kot.


Ikut interpretasi Schrodinger dan Bohr terhadap fungsi gelombang kuantum, jika kita ambil dua partikel yang wujud dalam pelbagai keadaan dan membiarkan keduanya bertaut secara kuantum agar fungsi gelombangnya bergumpalan, kedua-dua partikel ini akan menunjukkan apa yang Einstein sebut sebagai "aksi menyeramkan dari jauh". Maksudnya, dua partikel boleh berkomunikasi tanpa perantaraan yang jelas, tanpa batasan ruang dan masa.


Einstein bersama-sama dengan Podolsky dan Rosen menulis satu kertas-kerja untuk menyatakan bahawa mekanik kuantum adalah sepenuhnya salah, atau sekurang-kurangnya tidak lengkap. Kertas-kerja ini mengusulkan satu lagi ekpsperimen teoretikal yang menunjukkan satu lagi paradoks, dikenali sebagai EPR paradox.  Einstein berharap eksperimen ini dapat menunjukkan bahawa fizik kuantum adalah terlalu pelik untuk diterima sebagai benar, bahawa ia masih belum lengkap. 


Macam mana benda (partikel) boleh wujud dalam pelbagai keadaan (seperti kucing dalam kotak yang boleh hidup dan mati serentak, sebelum ia diperhatikan)? Atau berada di dua atau lebih tempat sekaligus? Atau bertaut/bergumpal/berkomunikasi (dengan kelajuan cahaya) tanpa sebarang perantaraan yang jelas?


Fizik kuantum menampilkan dilema gelombang-partikel pada semua benda, bergantung pada cara bagaimana ia disaksi/lihat/perhati/sukat. Alam semesta termasuk segala dalamnya wujud bila ada penyaksian yang bertujuan (ingat syahadah). 


Oleh itu, apa sebenarnya asas cahaya yang mengizinkan alam semesta 'ada'? Gelombang atau partikel-benda, atau kedua-duanya sekali serentak? Kita tinjau apa yang dijawab dari sisi sains.


Ramai saintis mengatakan begini (secara mudahnya):
Jika kita ingin menyaksikan/menyukat partikel (posisi), kita akan menyaksikan partikel (posisi). Jika kita ingin menyaksikan/menyukat gelombang (kelajuan/momentum), kita akan menyaksikan gelombang. Bergantung pada instrumen yang digunakan, kita akan mengesan partikel atau mengesan gelombang.


Alam semesta membolehkan kita melihat apa yang kita ingin lihat, bergantung pada cara kita menggunakan intrumen yang mengizinkan proses penyaksian itu berlaku - otak. 


Saintis hanya boleh menerangkan apa yang disaksi atau diperhatikan, bukan kenapa dan bagaimana. Sains bukanlah kitab besor hukum alam. Ia sebenarnya adalah alat untuk manusia menerangkan sebahagian dari hukum alam yang tertentu. 


Sains adalah interpretasi dan deskripsi, bukan hukum alam itu sendiri.


Akhirnya, Einstein yang hebat dan lojik itu tunduk dan berkata begini: 


"Seorang manusia ialah sebahagian dari keseluruhan, dipanggil alam semesta, sebahagian yang terbatas oleh masa dan ruang. Dia mengalami dirinya, fikirannya dan perasaan sebagai sesuatu yang terpisah dari yang lain.....sejenis delusi optikal ciptaan kesedarannya sendiri. Delusi ini seakan penjara untuk kita, membatas kita pada keinginan-keinginan dan kesukaan terhadap beberapa orang yang dekat dengan kita. Tugas kita adalah untuk membebaskan diri dari penjara ini dengan meluaskan bulatan ihsan menerusi penerimaan terhadap keindahan semua makhluk dan seluruh alam."


Sekiranya proses penyaksian yang bertujuan (keinginan) membina realiti benda (mimpi benda), apakah instrumen penyaksian? Otak? Apakah pula yang dikatakan sebagai minda yang menghadirkan pengalaman mimpi benda? Apa/siapa pula di sebalik minda, sebelum sebarang kesedaran/idea itu terbentuk dalam minda? Siapakah SAKSI kepada kesedaran minda itu? 


Apakah sains berasaskan model fizik klasik (benda dan mekanikal yang terdiri dari komponen yang berdiri sendiri, bukan saling bertaut) boleh digunakan untuk menjawab soalan ini? Apakah jawapannya? Adakah jawapannya seakan kembali kepada metafizik, kepada begitu banyak pintu jawapan yang telah dibuka sejak 2500 tahun dahulu? 


(Bersambung)


Baca juga
http://hasnulsaidon.blogspot.com/2011/09/happy-inter-dependence-and-birth.html 









RAHSIA SEBALIK 1 DAN 0 (BINARI MEDIA DIGITAL)

  Tiap hari guna media sosial, tapi apa sebenarnya 'media'? Ini prelud kpd sesi perbualan dgn Roopesh Sitharan di Galeri Ilham KL, 4...